Archive for Oktober 13th, 2008
Inyiak Parabek
Syekh Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek, Bukittinggi pada tahun 1882. Setelah belajar pada beberapa perguruan, pada umur 18 tahun ia berangkat ke Mekah dan belajar di negeri itu selama 8 tahun. Ia kembali ke Minangkabau pada tahun 1909 dan mulai mengajar pada tahun 1912. kemudian ia berangkat lagi ke Mekah pada tahun berikutnya dan kembali pada tahun 1915. Saat itu ia telah mendapat gelar Syekh Ibrahim Musa atau inyiak Parabek sebagai pengakuan tentang agama. Syekh Ibrahim Musa tetap diterima oleh golongan tradisi, walaupun ia membantu gerakan pembaruan. Ia menjadi anggota dua organisasi Kaum Muda dan kaum Tua, yaitu Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) dan Ittihadul Ulama. (dikutip dari http://www.cimbuak.net/content/view/1297/5/)
Add comment 13 Oktober, 2008
Silaturrahmi 2
Hari Selasa, 7 Oktober 2008, silaturrahmi berlanjut. Alhamdulillah, singgah ke Taluk pengurus Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Ustad Masyrur, Uda Deswandi, Zulfahmi dan Angku Doktor. Cerita lama tetap mengalir, nostalgia sekolah di Parabek seperti tidak akan habis diceritakan. Namun silaturrahmi kali ini cukup serius untuk membicarakan “100 tahun Madrasah Sumatera Thawalib, Parabek”. Memakai istilah “urang awak” yaitu “mambangkik batang tarandam”. Banyak ide yang muncul dari silaturrahmi, diantaranya : seminar, reuni akbar, pembentukan BMT, penerbitan buku 100 tahun MST Parabek dan sebagainya. Mudah-mudahan rencana-rencana dalam rangka 100 tahun dapat terwujudkan dan memberikan kontribusi yang besar bagi Madrasah Sumatera Thawalib, Parabek.
Add comment 13 Oktober, 2008
Silaturrahmi 1
Momen lebaran adalah momen penting dalam membangun silaturrahmi. Lebaran ke IV, tepatnya hari Sabtu, 4 Oktober 2008, kami berkumpul di Taluk, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam. Hadir saat itu alumni Sumatera Thawalib Parabek tahun 1987, diantaranya; Ardinal “nanan” Hasan, Bahrison, Fauziah Amir, Ferawati, Indra Yunaidi, Ismail, Maimun, Rina, dan Wita Melati. Juga hadir alumni tahun 1988; Akhyar Hanif, Elfirahmi, dari alumni 1989 hadir Taufiqurahman. Rasa “taragak” berkumpul dengan kawan-kawan alumni akhirnya terpenuhi. Walaupun silaturrahmi (mungkin lebih cocok dibanding “reuni”, karena lebih Islami) tidak dihadiri banyak alumni dari beberapa angkatan namun kehangatan silaturrahmi tidak berkurang. Cerita-cerita jaman sekolah itu mengalir, mulai dari “nanan”(Ardinal), Angku Doktor (Ismail) dan Bahrison, sedangkan saya lebih banyak tertawa daripada bercerita (karena tidak terlalu pintar bercerita). Cerita-cerita silih berganti diceritakan oleh kawan-kawan maupun adik-adik yang tamat belakangan. Silaturrahmi ini berlangsung cukup lama, hampir 6 (enam) jam, namun seperti berlangsung beberapa menit saja. Insya Allah Idul Fitri tahun depan (1430 H) silaturrahmi akan diadakan dirumah Ardinal “nanan” Hasan. Taqabbalallahu Minna wa Minkum.
Add comment 13 Oktober, 2008