Archive for Oktober 21st, 2008
Alumni MST Parabek mendapatkan Bea Siswa Santri Berprestasi
Departemen Agama RI melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam memberikan Beasiswa Santri Berprestasi. Pada tahun 2008 ini tercatat 2(dua) orang alumni Sumatera Thawalib Parabek mendapatkan beasiswa tersebut, yaitu :
1. FADHLI LUKMAN, yang mengambil kuliah di Jurusan Tafsir-Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN)Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
2. SISKA HANDAYANI, ang mengambil kuliah di Jurusan Tafsir-Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN)Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Pada tahun 2007, tercatat 3 (tiga) orang alumni Sumatera Thawalib Parabek mendapatkan beasiswa yang sama, yaitu:
1. ALFI HUSNI, yang mengambil kuliah di Jurusan Jurusan Ahwal Al-Syahsiyyah, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya.
2. ANGGI SEPRIYARDI, yang mengambil kuliah di Jurusan Jurusan Ahwal Al-Syahsiyyah, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya.
3. YUHELMIRA, yang mengambil kuliah di Jurusan Jurusan Ahwal Al-Syahsiyyah, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya.
(Sumber: Direktorat Pendidikan Diniyah & Pondok Pesantren, Departemen Agama RI.)
Add comment 21 Oktober, 2008
REKAM JEJAK ALUMNI MST PARABEK, Hamka
Hamka, Istiqamah
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan HAMKA dilahirkan dari pasangan Haji Karim Amrullah (Inyiak DR) dan Siti Safiah. Beliau lahir di Sungai Batang , Maninjau 17 Februari 1908 bertepatan dengan 14 Muharram 1326.
HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga belajar di Sumatera Thawalib Parabek dengan bimbingan Syekh Ibrahim Musa yang juga merupakan sahabat dari ayahnya (inyiak DR). Ia juga mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syekh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo.
Atas dorongan kawan-kawanya, pada usia 19 tahun tanpa sepengetahuan ayahnya HAMKA berangka naik haji melalui Medan. Dengan uang pas-pasan untuk tiket kapal pulang-pergi, dia tinggal di Mekah dan bekerja selama 1 tahun. Setahun kemudian ia pulang ke Medan dan diantar oleh Haji Yusuf Amrullah (adik bapaknya)pulang ke kampung halamannya. Ayahnya (Inyiak DR) sempat menitikkan air mata ketika tahu si Malik (maksudnya Hamka) sudah jadi haji. Padahal sang ayah pernah bertekad untuk mengantar HAMKA untuk naik haji pada usia 10 tahun, namun tidak terlaksana karena hubungan keduanya kurang mesra. Ingat tekat ayahnya itulah HAMKA ke Tanah Suci walau dengan segala keterbatasan finansial. Inilah yang mebuat ayahnya terharu dan menitikkan air mata.
Pada masa orde baru Tahun 1981, Majelis Ulama Indonesia Indonesia menyatakan bahwa “Natal bersama adalah Haram”, pernyataan ini ditanda-tangani oleh beliau selaku Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia. Fatwa ini ibarat nada sumbang dalam orkestra Orde Baru, Alamsjah Ratuprawiranegara menteri Agama saat itu meminta agar fatwa tersebut dibatalkan. Namun HAMKA tetap Istiqamah dengan pendiriannya, ia memilih mundur dari MUI dari pada mencabut fatwa “haram natal bersama”. Pada kesempatan lain HAMKA juga mengecam pembangunan Kota Jakarta dengan dana dari hasil judi dibawah kepemimpinan Ali Sadikin. Beliau tetap Istiqamah, beliau tidak takut akan bahaya kalau bersebrangan dengan pemerintah ORBA dan beliau hanya takut semata-mata kepada Allah.
Hamka pernah bertanya kepada ayahnya ketika Inyiak DR menolak “Keire” (membungkuk memhormati kaisar Jepang). “Apakah Ayah tidak takut disiksa atau dipotong leher oleh Kempetai (tentara) Jepang? Inyiak DR menjawab “ayah tidak takut meskipun harus berpisah leher ini dengan badan, tapi ayah takut akan pertanyaan setelah leher ini dipotong (maksudnya hari Kiamat). (Ditulis dari berbagai sumber, media cetak, internet maupun media lainnya)
Add comment 21 Oktober, 2008
REKAM JEJAK ALUMNI MST PARABEK, Adam Malik
Adam Malik, Hidup bukan untuk makan tapi untuk berjuang.
ADA salah satu ucapan Adam Malik yang sering diulangnya. “Hidup bukan untuk makan, tapi untuk berjuang”. Sampai ia meninggal, 5 September 1984, Adam Malik seakan ingin terus membuktikan ucapannya itu. Sekalipun secara medis kanker hati yang dideritanya diperkirakan tak akan tersembuhkan, ia tetap optimistis.Dan terus berjuang. Sampai saat-saat terakhirnya la masih terus berbicara mengenai masalah bangsa, negara,danperjuangan.
Nasib rakyat memang menjadi obsesi Adam Malik sejak ia masih remaja. Lahir di Pematangsiantar, 1917,Adam Malik sempat menyelesaikan sekolah HIS karena ayahnya, Haji Abdul Malik, seorang pedagang yangtergolong mampu. Setelah setahun belajar di Sekolah Agama Parabek di Bukittinggi, ia berpindah ke sekolah agama lain, AlMasrullah, di Tanjungpura, Langkat. Di sini Adam Malik merasa tak betah dengan suasana feodalnya. Ia keluar dan, agar lebih leluasa bergerak, membuka sebuah toko cabang milik ayahnya. “Toko Murah itu sendiri bagi saya bukanlah tujuan, tapi hanya alat untuk mencapai tujuan,” tulis Adam Malik dalam bukunya Mengabdi Republik.
Dizaman Jepang Adam Malik aktif bergerilya dalam pergerakan pemuda memperjuangkan kemerdekaan. Menjelang 17 agustus, bersama Sukarni, Chairul Saleh dan Wikana, Adam Malik pernah menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk memaksa mereka memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.
Kemahirannya memadukan diplomasi dan media massa mengantarkan beliau menimba berbagai
pengalaman, sebagai Duta besar, Menteri, Ketua DPR hingga menjadi Wakil Presiden. Pada akhir 1950, beliau sebagai Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet dan Polandia. Beliau merupakan ketua Delegasi RI dalam perundingan Indonesia- Belanda, untuk penyerahan Irian Barat di tahun 1962. Pada saat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada periode 1966 – 1978, bersama para Menteri Luar Negeri dari Filipina, Malaysia, Singapura dan Thailand, beliau turut mempelopori terbentuknya ASEAN di Bangkok, Thailand pada tahun 1967. Beliau juga mendapatkan kepercayaan sebagai Ketua Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa ke-26 pada tahun 1971-1972 di New York, Amerika Serikat.
Banyak jabatan penting yang telah diemban oleh beliau, namun diakhir hayatnya mantan wapres Adam Malik hanya menggunakan pakaian kaus oblong dan sarung Bugis biru.
(Ditulis dari berbagai sumber, baik media cetak, internet maupun media lainnya)
Add comment 21 Oktober, 2008