REKAM JEJAK ALUMNI MST PARABEK, Hamka
Hamka, Istiqamah
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan HAMKA dilahirkan dari pasangan Haji Karim Amrullah (Inyiak DR) dan Siti Safiah. Beliau lahir di Sungai Batang , Maninjau 17 Februari 1908 bertepatan dengan 14 Muharram 1326.
HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga belajar di Sumatera Thawalib Parabek dengan bimbingan Syekh Ibrahim Musa yang juga merupakan sahabat dari ayahnya (inyiak DR). Ia juga mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syekh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo.
Atas dorongan kawan-kawanya, pada usia 19 tahun tanpa sepengetahuan ayahnya HAMKA berangka naik haji melalui Medan. Dengan uang pas-pasan untuk tiket kapal pulang-pergi, dia tinggal di Mekah dan bekerja selama 1 tahun. Setahun kemudian ia pulang ke Medan dan diantar oleh Haji Yusuf Amrullah (adik bapaknya)pulang ke kampung halamannya. Ayahnya (Inyiak DR) sempat menitikkan air mata ketika tahu si Malik (maksudnya Hamka) sudah jadi haji. Padahal sang ayah pernah bertekad untuk mengantar HAMKA untuk naik haji pada usia 10 tahun, namun tidak terlaksana karena hubungan keduanya kurang mesra. Ingat tekat ayahnya itulah HAMKA ke Tanah Suci walau dengan segala keterbatasan finansial. Inilah yang mebuat ayahnya terharu dan menitikkan air mata.
Pada masa orde baru Tahun 1981, Majelis Ulama Indonesia Indonesia menyatakan bahwa “Natal bersama adalah Haram”, pernyataan ini ditanda-tangani oleh beliau selaku Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia. Fatwa ini ibarat nada sumbang dalam orkestra Orde Baru, Alamsjah Ratuprawiranegara menteri Agama saat itu meminta agar fatwa tersebut dibatalkan. Namun HAMKA tetap Istiqamah dengan pendiriannya, ia memilih mundur dari MUI dari pada mencabut fatwa “haram natal bersama”. Pada kesempatan lain HAMKA juga mengecam pembangunan Kota Jakarta dengan dana dari hasil judi dibawah kepemimpinan Ali Sadikin. Beliau tetap Istiqamah, beliau tidak takut akan bahaya kalau bersebrangan dengan pemerintah ORBA dan beliau hanya takut semata-mata kepada Allah.
Hamka pernah bertanya kepada ayahnya ketika Inyiak DR menolak “Keire” (membungkuk memhormati kaisar Jepang). “Apakah Ayah tidak takut disiksa atau dipotong leher oleh Kempetai (tentara) Jepang? Inyiak DR menjawab “ayah tidak takut meskipun harus berpisah leher ini dengan badan, tapi ayah takut akan pertanyaan setelah leher ini dipotong (maksudnya hari Kiamat). (Ditulis dari berbagai sumber, media cetak, internet maupun media lainnya)
Add comment 21 Oktober, 2008
REKAM JEJAK ALUMNI MST PARABEK, Adam Malik
Adam Malik, Hidup bukan untuk makan tapi untuk berjuang.
ADA salah satu ucapan Adam Malik yang sering diulangnya. “Hidup bukan untuk makan, tapi untuk berjuang”. Sampai ia meninggal, 5 September 1984, Adam Malik seakan ingin terus membuktikan ucapannya itu. Sekalipun secara medis kanker hati yang dideritanya diperkirakan tak akan tersembuhkan, ia tetap optimistis.Dan terus berjuang. Sampai saat-saat terakhirnya la masih terus berbicara mengenai masalah bangsa, negara,danperjuangan.
Nasib rakyat memang menjadi obsesi Adam Malik sejak ia masih remaja. Lahir di Pematangsiantar, 1917,Adam Malik sempat menyelesaikan sekolah HIS karena ayahnya, Haji Abdul Malik, seorang pedagang yangtergolong mampu. Setelah setahun belajar di Sekolah Agama Parabek di Bukittinggi, ia berpindah ke sekolah agama lain, AlMasrullah, di Tanjungpura, Langkat. Di sini Adam Malik merasa tak betah dengan suasana feodalnya. Ia keluar dan, agar lebih leluasa bergerak, membuka sebuah toko cabang milik ayahnya. “Toko Murah itu sendiri bagi saya bukanlah tujuan, tapi hanya alat untuk mencapai tujuan,” tulis Adam Malik dalam bukunya Mengabdi Republik.
Dizaman Jepang Adam Malik aktif bergerilya dalam pergerakan pemuda memperjuangkan kemerdekaan. Menjelang 17 agustus, bersama Sukarni, Chairul Saleh dan Wikana, Adam Malik pernah menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk memaksa mereka memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.
Kemahirannya memadukan diplomasi dan media massa mengantarkan beliau menimba berbagai
pengalaman, sebagai Duta besar, Menteri, Ketua DPR hingga menjadi Wakil Presiden. Pada akhir 1950, beliau sebagai Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet dan Polandia. Beliau merupakan ketua Delegasi RI dalam perundingan Indonesia- Belanda, untuk penyerahan Irian Barat di tahun 1962. Pada saat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada periode 1966 – 1978, bersama para Menteri Luar Negeri dari Filipina, Malaysia, Singapura dan Thailand, beliau turut mempelopori terbentuknya ASEAN di Bangkok, Thailand pada tahun 1967. Beliau juga mendapatkan kepercayaan sebagai Ketua Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa ke-26 pada tahun 1971-1972 di New York, Amerika Serikat.
Banyak jabatan penting yang telah diemban oleh beliau, namun diakhir hayatnya mantan wapres Adam Malik hanya menggunakan pakaian kaus oblong dan sarung Bugis biru.
(Ditulis dari berbagai sumber, baik media cetak, internet maupun media lainnya)
Add comment 21 Oktober, 2008
Mandi "Sabatang Sabun"
Sekolah di “Parabek” (maksudnya MST Parabek) memiliki banyak kenangan. Karena kebersamaan dengan kawan-kawan sekolah cukup lama yaitu 6 tahun. Kawan-kawan memiliki perangai yang unik dan terkadang “bandel”. Pengalaman ini terjadi sekitar tahun 1986, dimana kami masih kelas 6, saat itu kami tidak sedang belajar karena ada guru yang tidak bisa masuk. Untuk mengisi kekosongan kami main “takraw” (sepak takraw) didepan asrama baru yang berhadap-hadapan dengan ruang belajar kelas 5. Saking asiknya main takraw kami ketawa dan bercanda yang membuat suasana hiruk pikuk dan tidak menyadari bahwa anak kelas 5 cukup terganggu dengan suara-suara kami. Tiba-tiba di ujung gang kelas 6 datang alm. Inyiak Ibrahim, kami yang bermain langsung kaget dan menghentikan permainan. Melihat kami telah menghentikan permainan, inyiak (kami menyebut inyiak untuk alm. Ustad Ibrahim untuk membedakan dengan “Inyiak Syekh” untuk alm. Inyiak Syekh Ibrahim Musa, karena dua-duanya menggunakan nama Ibrahim), kembali mengajar ke kelas 5. Kawan-kawan melihat inyiak pergi, kembali melanjutkan permainan takraw. Mungkin saking asik main takraw, suara gaduh kembali terjadi, tentu mengganggu adik-adik yang lagi belajar di kelas 5. Inyiak kembali datang kelapangan permainan dan mengambil “net” takraw dan membawanya kekelas tempat ia mengajar. Alhasil permainan takraw tidak bisa dilakukan lagi. Tiba-tiba ada seorang kawan mengambil batu dan melempari atap tempat belajar anak kelas 5. Kejadian ini mengakibatkan kami tidak belajar dengan inyiak selama 2 hari. Pada hari ketiga inyiak masuk ke kelas kami dan membawa net takraw dan berkata : “Yang salah dalam kejadian tempo hari bukan net ini tapi adalah syaithan. Syaithan itu terbuat dari api maka untuk menghukum syaithan yang ada dalam di kalian maka harus dengan air. Siapa saja yang ikut main takraw 3 hari yang lalu silahkan mandi di “tabek” yang ada didepat perpustakaan”. Kami yang ber 7 orang dibekali sebatang sabun cuci dan mandi sampai sabun tersebut habis. Itulah sekelumit ingatan saya tentang Madrasah Sumatera Thawalib Parabek.
1 comment 16 Oktober, 2008
Cara Pengisian Formulir secara Online
1. Klik Form registrasi di Form Registrasi Alumni
Add comment 15 Oktober, 2008
Inyiak Parabek
Syekh Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek, Bukittinggi pada tahun 1882. Setelah belajar pada beberapa perguruan, pada umur 18 tahun ia berangkat ke Mekah dan belajar di negeri itu selama 8 tahun. Ia kembali ke Minangkabau pada tahun 1909 dan mulai mengajar pada tahun 1912. kemudian ia berangkat lagi ke Mekah pada tahun berikutnya dan kembali pada tahun 1915. Saat itu ia telah mendapat gelar Syekh Ibrahim Musa atau inyiak Parabek sebagai pengakuan tentang agama. Syekh Ibrahim Musa tetap diterima oleh golongan tradisi, walaupun ia membantu gerakan pembaruan. Ia menjadi anggota dua organisasi Kaum Muda dan kaum Tua, yaitu Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) dan Ittihadul Ulama. (dikutip dari http://www.cimbuak.net/content/view/1297/5/)
Add comment 13 Oktober, 2008
Silaturrahmi 2
Hari Selasa, 7 Oktober 2008, silaturrahmi berlanjut. Alhamdulillah, singgah ke Taluk pengurus Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Ustad Masyrur, Uda Deswandi, Zulfahmi dan Angku Doktor. Cerita lama tetap mengalir, nostalgia sekolah di Parabek seperti tidak akan habis diceritakan. Namun silaturrahmi kali ini cukup serius untuk membicarakan “100 tahun Madrasah Sumatera Thawalib, Parabek”. Memakai istilah “urang awak” yaitu “mambangkik batang tarandam”. Banyak ide yang muncul dari silaturrahmi, diantaranya : seminar, reuni akbar, pembentukan BMT, penerbitan buku 100 tahun MST Parabek dan sebagainya. Mudah-mudahan rencana-rencana dalam rangka 100 tahun dapat terwujudkan dan memberikan kontribusi yang besar bagi Madrasah Sumatera Thawalib, Parabek.
Add comment 13 Oktober, 2008
Silaturrahmi 1
Momen lebaran adalah momen penting dalam membangun silaturrahmi. Lebaran ke IV, tepatnya hari Sabtu, 4 Oktober 2008, kami berkumpul di Taluk, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam. Hadir saat itu alumni Sumatera Thawalib Parabek tahun 1987, diantaranya; Ardinal “nanan” Hasan, Bahrison, Fauziah Amir, Ferawati, Indra Yunaidi, Ismail, Maimun, Rina, dan Wita Melati. Juga hadir alumni tahun 1988; Akhyar Hanif, Elfirahmi, dari alumni 1989 hadir Taufiqurahman. Rasa “taragak” berkumpul dengan kawan-kawan alumni akhirnya terpenuhi. Walaupun silaturrahmi (mungkin lebih cocok dibanding “reuni”, karena lebih Islami) tidak dihadiri banyak alumni dari beberapa angkatan namun kehangatan silaturrahmi tidak berkurang. Cerita-cerita jaman sekolah itu mengalir, mulai dari “nanan”(Ardinal), Angku Doktor (Ismail) dan Bahrison, sedangkan saya lebih banyak tertawa daripada bercerita (karena tidak terlalu pintar bercerita). Cerita-cerita silih berganti diceritakan oleh kawan-kawan maupun adik-adik yang tamat belakangan. Silaturrahmi ini berlangsung cukup lama, hampir 6 (enam) jam, namun seperti berlangsung beberapa menit saja. Insya Allah Idul Fitri tahun depan (1430 H) silaturrahmi akan diadakan dirumah Ardinal “nanan” Hasan. Taqabbalallahu Minna wa Minkum.
Add comment 13 Oktober, 2008
